Rabu, 26 Februari 2014

LATAR BELAKANG MALUKU UTARA



Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas dan Molukken adalah provinsi tertua yang ada di Indonesia dimana lintasan sejarah Maluku sudah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan besar di Timur Tengah, seperti kerajaan Mesir yang dipimpin Fir'aun. Bukti bahwa sejarah Maluku adalah yang tertua di Indonesia adalah catatan tablet tanah liat yang ditemukan di Persia, Mesopotamia dan Mesir menyebutkan adanya negeri dari timur yang sangat kaya, merupakan tanah surga, dengan hasil alam berupa cengkeh, emas dan mutiara, daerah itu tak lain dan tak bukan adalah tanah Maluku yang memang merupakan sentra penghasil Pala, Fuli, Cengkeh dan Mutiara. Pala dan Fuli dengan mudah didapat dari Banda Kepulauan, Cengkeh dengan mudah ditemui di negeri-negeri di Ambon, Pulau-Pulau Lease (Saparua, Haruku & Nusa laut) dan Nusa Ina serta Mutiara dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar di Kota Dobo, Kepulauan Aru.
Ibukota Maluku adalah Ambon yang bergelar atau memiliki julukan sebagai Ambon Manise, kota Ambon berdiri dibagian selatan dari Pulau Ambon yaitu di jazirah Leitimur. Ada wacana bahwa Kota Ambon Manise sudah semakin padat, sumpek dan tidak lagi layak untuk menampung jumlah penduduk yang dari tahun ke tahun meningkat tajam yang merupakan ibukota Provinsi akan menjadi kota biasa karena ibukota direncanakan pindah ke negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah.
Jumlah penduduk provinsi ini tahun 2010 dalam hasil sensus berjumlah 1.533.506 jiwa. Maluku terletak di Indonesia Bagian Timur. Berbatasan langsung dengan Maluku Utara dan Papua Barat disebelah utara, Laut Maluku, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara disebelah barat, Laut Banda, Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur disebelah selatan serta Laut Aru dan Papua disebelah timur.
Maluku memiliki 2 agama utama yaitu agama Islam Sunni yang dianut 50,8 % penduduk Maluku dan agama Kristen (baik Protestan maupun Katolik) yang dianut 48,4 % penduduk Maluku.[2] Maluku tercatat dalam ingatan sejarah dunia karena konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon. Selepas tahun 2002, Maluku berubah wajah menjadi provinsi yang ramah dan damai di Indonesia, untuk itu dunia memberikan suatu tanda penghargaan berupa Gong Perdamaian Dunia yang diletakkan di ACC (Ambon City Centre).
Pada tahun 1999 ketika konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon melanda Maluku, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Namun, karena Kota Sofifi dinilai belum siap menjadi ibukota maka pusat pemerintahan sementara sampai 2009 berada di kota Kota Ternate yang berada di Pulau Ternate.
Provinsi Maluku dan Maluku Utara membentuk suatu gugus-gugus kepulauan yang terbesar di Indonesia dikenal dengan Kepulauan Maluku dengan lebih dari 4.000 pulau baik pulau besar maupun kecil.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku

Tinjauan


Masa Kawasan Seribu Pulau yang Memikat Wilayah Maluku tersebar di kepulauan. Historinya yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil rempah, memikat bangsa-bangsa Eropa untuk datang. tidore,maluku,pantaiSuasana pagi hari dari atas pelabuhan kecil di sudut Pulau Tidore. Perahu motor adalah sarana transportasi umum yang digunakan di wilayah Kepulauan Maluku Utara baik itu untuk nelayan dan berdagang. (Eko Bambang Subiantoro/Fotokita.net) Maluku secara internasional dikenal sebagai Mollucas, kawasan Seribu Pulau dan Kepulauan Rempah-rempah. Memang, sejarahnya, provinsi ini menghasilkan rempah-rempah yang di masa lalu jadi memikat perhatian bangsa-bangsa Eropa seperti Belanda, Spanyol, dan Portugis untuk datang dan kemudian menjajah untuk mengeruk rempah-rempah dan hasil bumi. Di masa Perang Dunia II kepulauan ini terbilang paling terkena dampak karena menjadi kawasan pertempuran antara Jepang dan Sekutu. Di masa kemerdekaan, daerah kepulauan ini (khususnya Pulau Banda) menjadiempat pembuangan tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno dan Sutan Sjahrir. Sedangkan Pulau Buru menjadi tempat penahanan anggota Partai Komunis Indonesia yang dihukum di masa awal Orde Baru (1966/1967).
Kerusuhan antaragama pada 1999 di Ambon diikuti pemisahan Maluku Utara menjadi provinsi tersendiri. Luka batin dan rusaknya sendi-sendi kehidupan serta pembangunan merupakan trauma besar bagi masyarakat Ambon dan sekitarnya. Oleh karena itu, mereka bertekad untuk membangun hingga penderitaan masa lalu terlupakan.
Secara administratif Provinsi Maluku terbagi menjadi sembilan kabupaten dan dua kota, dalam wilayah tersebar di beberapa pulau. Secara geografis wilayah seribu pulau itu dibagi menjadi Maluku Tengah dengan pulau terbesar Ambon, Kepulauan Lease, Pulau Haruku, Pulau Seram, Pulau Saparua, Kepulauan Nusalaut, dan Kepulauan Banda. Sedangkan Pulau Kei Kecil termasuk Maluku Tenggara.
Kota Ambon memiliki Bandara Pattimura yang merupakan hub bagi penerbangan pesawat-pesawat kecil dari dan menuju Papua Barat, Papua, dan kawasan lain Indonesia Timur. Objek wisata yang terkenal di kota ini adalah patung pahlawan perempuan Martha Christina Tiahahu, Pintu Kota yang terbentuk dari karang berlubang di pantai yang terletak di antara Desa Airlow dan Desa Seri.
Ada Museum Siwalima di Desa Amahusu (10 km dari pusat kota) yang menyajikan koleksi kenangan sejarah Ambon dan Maluku, Taman Makam Pahlawan PD II-Australia (Australia’s Commonwealth War Cemetery) di Tantui, Monumen Australia di Laha, Monumen Jepang di Tawiri, Benteng Victoria di Belakang Kota.
Ada juga Patung Franciscus Xaverius dan Monumen Rumphius di Batu Meja, Pantai Namalatu di Latulahat, Tanjung di Tanjung Nusaniwe, Tempayang di Soya, Gua Batu Lobang di Desa Amahusu, juga bungker dan terowongan bawah tanah peninggalan Belanda di Benteng Atas.
Kabupaten Maluku Tengah memiliki banyak pantai yang cantik, antara lain Pantai Natsepa di Desa Suli, Kecamatan Salahatu, Pantai Liang di sebelah timur Terminal Leihitu, menghadap ke Pulau Seram. Lalu ada Pantai Lawena di Desa Wisata Hutumuri Kecamatan Leitumuri, Pantai Hukurila dengan Desa Hukurila, dan lain-lain. Ada juga kolam dengan banyak belut raksasa (ukuran 1 – 1,5 m dengan diameter badan sekitar 10 cm) di Desa Waai, ada pula pemandian air panas di Kecamatan Salahutu.
Benteng Amsterdam terletak di Keiteru, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, sekitar 42 km dari Kota Ambon. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1569 sebagai pusat pertahanan dan pengawasan perdagangan di Teluk Ambon. Pada era penjajahan Belanda, awal abad ke-17, benteng ini diambil alih oleh Belanda.
Pulau Tiga yang terdiri atas tiga pulau yaitu Pulau Besar, Pulau Tengah, dan Pulau Ujung, bisa ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Ambon selama dua jam lalu disambung naik speed boat milik nelayan setempat selama 15 menit.
Di Desa Hila, di sisi jalan raya, terdapat Rumah Pusaka Desa Hila berusia ratusan tahun. Di Desa Keitetu, Kecamatan Hila, terdapat Masjid Kuni Wapaue yang dibangun pada 1414. Sementara di Desa Wisata Hutumuri terdapat Gereja Tua Hutumuri yang dibangun pada 1832. Sebagian besar bangunan kuno itu masih dalam bentuk dan bahan aslinya, dengan sedikit perbaikan di sini-sana.
Hasil alam wilayah kepulauan semacam Pulau Ambon tak ada lain kecuali ikan. Banyak keragaman ikan, dari  jenis murah yang biasa disantap penduduk, sampai ikan tuna yang dijual ke pedagang luar. Hasil bumi selain kayu sebagai bahan baku industri kayu lapis, kelapa, juga cengkih dan pala. Dua komoditas terakhir ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga Maluku sejak zaman penjajahan dahulu. Hasil alam lain bisa disebut minyak kayu putih, besi putih untuk kerajinan, dan mutiara yang perajinnya terdapat di seantero Ambon.
Ikan cakalang bakar maupun ikan lain yang disop dengan kuah untuk dicampurkan dengan papeda banyak terdapat di kedai makan dan restoran. Papeda adalah makanan pengganti nasi yang dibuat dari sari pohon sagu yang sudah diendapkan. Dibuat mirip bubur dan dimakan dengan aneka lauk dan rasa sesuai selera: manis, asin, dan masam.Bahan sagu juga dibuat menjadi kue dan aneka jajanan hasil kreasi masyarakat. Tapi nasi juga ada, baik yang benar-benar berbahan baku nasi (beras) seperti nasi kelapa yang gurih mirip nasi uduk atau nasi ikan dan nasi kuning, sampai nasi pulut unti yang berupa ketan rebus dicampur parutan kelapa
Bahan sagu juga dibuat menjadi kue dan aneka jajanan hasil kreasi masyarakat. Tapi nasi juga ada, baik yang benar-benar berbahan baku nasi (beras) seperti nasi kelapa yang gurih mirip nasi uduk atau nasi ikan dan nasi kuning, sampai nasi pulut unti yang berupa ketan rebus dicampur parutan kelapa

tidore,maluku,pantai



 






                      
sumber:  http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/tinjauan-masa-kawasan-seribu-pulau-yang-memikat



sejarah parawisata maluku utara

Maluku utara adalah surga tropis di Indonesia bagian timur. Inilah tempat wisata bahari, budaya, purbakala, sejarah, dan ada istiadat. Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yaitu Bacan, Jailolo, Ternate, dan Tidore. Ibu kota Maluku Utara terletak di Sofifi, Kecamatan Oba Utara. Sejak 4 Agustus 2010 daerah ini menggantikan kota terbesarnya, Ternate, yang berfungsi sebagai ibu kota sementara selama 11 tahun untuk menunggu kesiapan infrastruktur di Sofifi. Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau besar dan kecil yang tersebar di perairan yang menakjubkan. Pulau yang telah dihuni sebanyak 64 buah dan yang tidak dihuni sebanyak 331 buah. Salah pulau yang tidak berpenghuni adalah Pulau Dodola. Pulau ini adalah contoh dari pantai tropis yang indah. Pasir putih seluas 16 km mengelilingi pantai dengan airnya yang jernih. Di pulau ini, pengunjung dapat melakukan banyak kegiatan menarik seperti berenang, berjemur, dan menyelam. Pulau Maitara juga menawarkan kehidupan laut yang fantastis. Pulau ini terletak di tengah Pulau Tidore dan Ternate. Maluku Utara memiliki objek wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias beragam jenis. Wisata alam seperti batu lubang tersebar hampir di seluruh wilayah. Ada juga hutan wisata sekaligus taman nasional dengan spesies endemik ranking ke 10 di dunia. Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun di perairan laut seperti Cagar Alam sumber: http://www.indonesia.travel/id/discover-indonesia/region-detail/48/maluku-utara

"Benteng" Wisata Sejarah di MalukuMaluku siapa yang tak kenal dengan

daerah yang sempat menjadi mercusuar para  penjelajah dunia  sejak jaman dahulu.  Daerah ini pernah disinggahi sejumlah petualang dunia hingga berakhir dengan penjejehan dan kolonialisme bangsa eropa. Tidak heran, jika jejek itu kemudian meninggalkan  sebuah prasasti dengan banyak dibangunnya  benteng - benteng untuk pertahanan. Kini benteng-benteng tersebut menjadi wisata sejarah nan elok di tanah

Maluku :

Mau tahu tujuh  benteng yang sempat menjadi kedigdayaan bangsa-bangsa kolonialis jaman dulu :
1. Benteng Oranye

Dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Witlentt path tahun 1609. Benteng oranye ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang dibangun oleh Bangsa Portugis dan dihuni oleh orang Melayu sehingga diberi nama benteng Melayu. Dalam benteng ini pernah menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda (Gubernur Jenderal) VOC Pieter Both, Herarld Reyist, Laurenz Reaal dan J.C Coum. Di benteng ini pula Sultan Mahmud Badarudin II (Sultan Palembang) diasingkan di Ternate pada tahun 1822 hingga meninggal dunia pada tahun 1852 dan makamnya terletak di perkuburan islam di sebelah barat kelurahan Kalumpang Ternate. Letak benteng ini berada di pusat kota dengan kondisi fisik masih utuh, di dalam benteng ini sekarang ditempati oleh kesatuan POLRI dan Angkatan Darat.

2. Benteng Kalamata

Sering disebut Benteng Santa Lucia atau juga disebut benteng Kayu Merah. Benteng ini semula dibangun oleh Piyageta atau Portugis pada tahun 1540 kemudian dipugar oleh Pieter Both, bangsa Belanda pada tahun 1609. Pada tahun 1625 benteng ini pemah dikosongkan oleh Geen Huigen Schapen. Benteng yang dikosongkan ini kemudian diduduki oleh bangsa Spanyol hingga tahun 1663 setelah diduduki oleh Belanda. Benteng ini diperbaiki oleh Mayor Von Lutnow pada tahun 1799.

 Benteng ini terletak di sebelah selatan pusat kota Ternate dan berjarak 3 km dan dapat dicapai oleh kendaraan darat. Kondisi fisik benteng ini sekarang sangat baik karena selesai dipugar tetapi tampaknya nilai keasliannya telah diubah karena ada kesan seperti bangunan baru.

3. Benteng Bernaveld

Terdapat di Desa Labuha Kec. Bacan yang menurut tokoh masyarakat setempat benteng tersebut dibangun oleh bangsa Portugis pada akhir abad XV yang hingga kini kondisi fisiknya 7O% masih baik.

4. Benteng Tolukko

Semula dibangun oleh Fransisco Serao, seorang berkebangsaan Portugis, pada tahun 1540 kemudian direnovasi oleh Pieter Both, bangsa Belanda, pada tahun 1610. Benteng ini sering disebut benteng Holandia atau Santo Lucas, yang terletak di bagian utara kota Ternate. Benteng ini oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1661 mengizinkan Sultan Mandarsyah untuk menempatinya dengan kekuatan pasukan sebanyak 160 orang.

Dufa-Dufa yang berjarak �3 km dari pusat kota Ternate dan dapat dicapai dengan kendaraan darat. Kondisi benteng saat ini baik, karena baru saja dipugar, walaupun cara pengerjaannya masih kurang memuaskan sebagai suatu benda peninggalan sejarah masa lalu.

5. Benteng Kotanaka

Dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke 18. Letaknya disamping kanan sebelah utara Kedaton Sultan Tenate, diatas sebuah bukit. Benteng ini diberi nama sesuai nama sebuah mata air yang berada di sekitarnya. Fungsi dari benteng ini adalah untuk mengawasi gerak-gerik Sultan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan untuk anda. Kondisi benteng ini hanya bekasnya saja dan telah ditumbuhi pepohonan dan rumput

6. Benteng Dever Lacting

Di pusat kota Kec. Sanana (Desa Mangon) tepatnya didekat pelabuhan ada sebuah benteng peninggalan penjajahan bangsa Belanda, nama benteng tersebut adalah Dever Lacting Acting luasnya sekitar 2750 m� dengan ukuran 50 X 55 m�, benteng ini didirikan pada tahun 1652 oleh seorangberkebangsaan Belanda, Victor Moll nama pendirinya. Sebagaimana benteng-benteng lain, benteng ini pun telah mengalami kerusakan, volume sakannya diperkirakan sekitar 60%.

7. Meriam Antik dan Bunker

Tepatnya di Desa Kusu Kec. Kao terdapat sebuah lapangan terbang dan 4 buah meriam antik beserta sebuah bunker bekas peninggalan bala tentara Jepang pada Perang Dunia II sekitar tahun 1942. Di lokasi ini pula pernah dikunjungi oleh wisatawan Jepang dalam bentuk rombongan untuk berjiarah. 

 sumber:  http://www.dnaberita.com/berita-1893-benteng-wisata-sejarah-di-maluku.html

Tempat Pariwisata Maluku Utara





















sumber: 252Fs640%252Fpantai%252Bora.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fzonapariwisata.blogspot.com%252F2012%252F04%252Fpantai-ora-maluku-pantai-indah-di-timur.html%3B560%3B380

Banyak 'Harta Karun' di Keraton Ternate, Maluku Utara


  Maluku punya banyak jenis wisata yang bisa dinikmati traveler, mulai dari alam sampai sejarah. Salah satu tempat untuk melihat kekayaan sejarah di Maluku Utara adalah Keraton Kerajaan Ternate. Ssst, banyak 'harta karun' di sini!
Tak hanya Yogyakarta atau Surakarta yang punya kesultanan. Di Maluku Utara terdapat Kesultanan Ternate yang dulu bernama Kerajaan Gapi. Wisatawan bisa berkeliling keraton yang punya banyak harta karun ini.
Ternate di Maluku Utara berukuran cukup kecil, dengan Gunung Gamalama di tengahnya. Hanya perlu sekitar 2 jam berkendara mengelilingi Ternate.
Sebelum dikenal dengan nama Kesultanan Ternate, dulunya bernama Kerajaan Gapi. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257, ini termasuk kerajaan Islam tertua di wilayah Maluku setelah Kesultanan Tidore pada tahun 1110.
Saat saya memandang gambar mahkota Sultan Ternate, juru kunci kesultanan bercerita tentang keunikan mahkota tersebut. Mahkota ini terdiri dari rambut dan dihiasi beberapa batu alam dan perhiasan emas, perak, perunggu, permata, intan, batu akik safir dan zamrud. Bayangkan cantiknya!
Konon, mahkota ini ternyata punya keajaiban. Masyarakat setempat percaya, rambutnya bisa tumbuh menjadi panjang.
Terdapat foto beberapa Sultan sebelumnya yang mengenakan mahkota dengan rambutnya yang sedang panjang. Mahkota yang bisa panjang rambutnya ini memiliki bentuk yang hampir sama dengan milik Kesultanan Tidore yang sudah tidak memiliki Sultan sejak tahun 1940-an.
Kesultanan Ternate punya banyak harta karun. Selain mahkota penuh perhiasan, bangunan dan sejarah yang tergores di sini tak ternilai harganya. Yuk, ke sana!
  Kadaton Sultan Ternate 
 
sumber:  http://travel.detik.com/readfoto/2013/09/22/151200/2075988/1026/1/banyak-harta-karun-di-keraton-ternate-maluku-utara

Tempat Wisata di Maluku Utara


Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa Maluku, contohnya Maluku Utara, merupakan salah satu tempat yang kaya akan budaya, seni, tradisi, dan keindahan alam yang elok.
Tidak heran jika banyak Tempat Wisata di Maluku Utara yang masuk dalam agenda para traveler.
Maluku Utara menjadi tempat menarik bagi banyak pecinta traveling untuk memenuhi kegemarannya mengunjungi tempat-tempat menarik di Indonesia. Berbagai jenis wisata dapat dipilih disana.
Tidak terbatas pada wisata alam yang menyegarkan pikiran, tetapi juga sarat akan wisata budaya dan sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Wisata Alam
Wisata alam menjadi salah satu tujuan yang biasa dicapai oleh banyak para wisatawan. Dengan adanya berbagai keindahan alam yang masih sangat alami, kita dapat menyegarkan kembali pikiran serta melepaskan kepenatan.
• Pulau Maitara
Pulau Maitara menjadi salah satu Tempat Wisata di Maluku Utara yang sangat terkenal karena terpampang pada salah satu sisi uang seribuan yang dikeluarkan oleh BI. Pulau ini sangat eksotis dan terletak diantara pulau Ternate serta Tidore.
Pulau ini dirawat dan terjaga keindahannya. Lingkaran pantai yang berpasir putih menjadi keindahan tersendiri pulau ini. keindahan bawah lautnya pun patut diacungi jempol.
• Pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha merupakan salah satu objek wisata alam yang menjadi tujuan wisata yang patut di masukkan dalam daftar Tempat Wisata di Maluku Utara ketika kita ke sana.
Pantai ini memiliki pasir berwarna hitam namun nyaman untuk bersantai. Diving dan snorkeling menjadi aktivitas menyenangkan disana.

Keindahan teluk Saomadaha membuat pantai ini terlihat sempurna. Teluk ini terletak di bagian kiri atau ke barat dari pantai. Berbagai aktivitas menyenangkan dapat dilakukan, terutama bagi mereka yang menyukai tantangan.

Wisata Budaya dan Sejarah
Selain keelokan alam di Maluku Utara, keunikan dan lestarinya budaya dan sejarah disana sangat menarik untuk ditelusuri. Terdapat beberapa Tempat Wisata di Maluku Utara yang dapat dikunjungi untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap budaya dan sejarah di sana.

• Benteng Toluko
Berbagai bangunan peninggalan sejarah dapat ditemukan di Maluku Utara. Bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya tersendiri. Salah satunya ialah benteng Toluko yang merupakan benteng peninggalan Portugis dan Belanda ini.
Benteng ini terletak di kota Ternate di kawasan utara. Meskipun benteng ini dibangun pada tahun 1540, namun bangunan ini sangat terawat sehingga dapat dikunjungi sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya kita.

• Kesultanan Ternate
Kesultanan ternate atau juga disebut sebagai Kedaton Ternate menjadi salah satu Tempat Wisata di Maluku Utara yang terkenal. Kesultanan ini terletak di atas perbukitan Limau Santosa. Memiliki luas lebih dari 44.000 meter persegi.
Di sini disimpan berbagai benda peninggalan sultan ternate, salah satunya yang melegenda ialah mahkota raja Ternate. Mahkota ini sangat unik karena terdapat helaian rambut yang terus tumbuh meskipun selalu dipotong ketika hari raya Qurban.

sumber:  http://www.perempuan.com/read/tempat-wisata-di-maluku-utara